Bloggroll

Rabu, 23 November 2011

Yayasan Darul Muhsinin: Melayani dalam Keterbatasan

Desa Wakan, dengan jumlah penduduk yang besar dan kondisi geografis yang luas, namun hanya memiliki satu  lembaga pendidikan. Yayasan Darul Muhsinin adalah satu-satunya sekolah yang ada dan membuka satuan pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), Madrasah Ibtida’iyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts), dan Madrasah Aliyah (MA)  meskipun dengan segala keterbatasan.
Yayasan Darul Muhsinin memainkan peran yang sangat penting dalam pelayanan pendidikan di desa wakan. Yayasan ini didirikan pada 1 Juli 1987. Pada awal berdirinya yayasan ini bernama Darul Muttaqin namun semenjak     1 juli 1987 yayasan ini berganti nama menjadi Darul Muhsinin yaitu untuk mengenang pendirinya TGH. Muhsin. yayasan ini mengelola tiga satuan pendidikan yaitu MI, Mts, dan MA. Gedung MI didirikan pada 1 juli 1993, MTS pada 1 juli 1987, dan  MA  berdiri pada pada 1 juli 2008. Ruang kelas MI hanya di sekat menggunakan triplek, bangku yang sudah tidak layak pakai, papan tulis yang  rusak, pintu dan jendelanya banyak yang  berlubang. Hanya ada dua kamar mandi yang sudah tidak terurus yang digunakan oleh siswa dan para guru. Kondisi ruangan kelasnya juga sangat memprihatinkan, dengan lantai yang semi permanen serta meja dan kursi seadanya.
Kamad MI, Pak Jumedan menuturkan dari data terakhir jumlah siswa-siswi sebanyak 142 orang, 16 orang tenaga pengajar. Sedangkan menurut wakamad MTs, pak Sudirman menuturkan bahwa dari data terakhir jumlah siswa-siswi sebanyak 143 orang, dan tenaga pengajar sebanyak 23 orang. Dan untuk jenjang MA menurut penuturan pak Sudirman jumlah siswa-siswi sebanyak 83 orang, dan tenaga pengajar sejumlah 23 orang. Yayasan ini sangat kekurangan tenaga pengajar oleh karena itu bebrapa guru mememegang beberapa mata pelajaran. Kondisi seperti ini jelas tidak baik karena tidak mungkin guru menguasai semua mata pelajaran akibatnya transfer ilmupun ala kadarnya.
Keberadaan yayasan Darul Muhsinin berperan penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa Wakan. Meskipun ditengah segala keterbatasaaan fasilitas, yayasan ini tetap semangat melayani kebutuhan anak-anak wakan akan  pendidikan.Antusiasme  warga untuk menyekolahkan anak-anak mereka juga sangat tinggi. Mereka memiliki banyak alasan untuk menyekolahkan anak mereka. Amaq Manin menuturkan, “menurut saya pendidikan sangatlah penting dimasa sekarang ini,saya berharap agar anak saya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, meskipun ditengah keterbatasan ekonomi, pekerjaan saya hanyalah buruh tani, dengan penghasilan yang tidak tetap, namun saya akan berusaha demi anak saya agar memperoleh pendidikan yang lebih dari saya dan istri saya”. Semangat warga untuk menyekolahkan anaknya ini menjadi motivasi bagi para pengurus yayasan untuk tetap bertahan. Antusiasme masyarakat terhadap pendidikan sangat kontras dengan ketersediaan lembaga pendidikan yang terdapat didesa wakan, minimnya fasilitas yang akan menunjanng proses berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
            Antusiasme  anak-anak di desa wakan untuk bersekolah tidak kalah dengan antusias orang tua mereka, meskipun ditengah keterbatasan dan fasilitas yang belum memadai, namun semangat mereka tidak luntur begitu saja, mereka berusaha untuk bersaing dengan siswa-siawa dari sekolah-sekolah negeri yang pavorit. Dalam beberapa lomba para siswa darul muhsinin meraih prestasi yang cukup membanggakan. Beberapa dari mereka menjadi juara dalam lomba pidato bahasa inggris dan lomba cerdas cermat baik di tingkat kecamatan bahkan kabupaten.
Salah seorang guru darul Muhsinin menuturkan, “meskipun dengan jumlah tenaga pengajar yang sangat minim serta fasilitas yang seadanya namun yayasan Darul Muhsinin mampu menghasilkan output yang tidak kalah dengan sekolah-sekolah negeri”. Terbukti dengan banyaknya alumni yang melanjutkan studi  ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi bahkan banyak diantara mereka mengenyam pendidikan di pergurun tinggi. Sebagian diantara mereka bahkan  sudah ada yang menjadi dosen pada beberapa perguruan tinggi di NTB, seperti: UNRAM, IAIAN, dan STKIP. Kemudian sebagian lagi banyak yang menjadi guru di sekolah-sekolah negeri dan ada pula yang kembali dan menjadi tenaga pengajar di darul Muhsinin. Mereka yang kembali menjadi pengajar di yayasan benar-benar mengabdi dengan tulus karena gaji mereka sebagai guru yayasan tidaklah seberapa..
            Dengan semangat melayani yang begitu besar, sudah selayaknya yayasan ini mendapatkan perhatian dari pemerintah. Terutama untuk pembangunan sarana dan prasarana sekaligus penyediaan buku-buku perpustakaan. Selain itu, antusiasme warga untuk menyekolahkan anak mereka meskipun dengan himpitan kebutuhan yang begitu berat layak diapresiasi. Inilah pelajaran kecil yang dapat dipetik dari desa wakan. Bagaiman sebuah yayasan di tengah segala keterbatasannya melayani dengan penuh semangat. [Suci, Ika, Uyunk, Riyan, Alawi]

Bale Beleq: Situs yang Terlupakan


              Bale beleq adalah sebuah rumah tradisional yang berlokasi di Desa Wakan, Lombok Timur dan diyakini sebagai sebuah rumah keramat oleh masyarakat setempat. Tak mengherankan banyak orang yang datang meminta berkah ke tempat ini, mulai dari mayarakat biasa bahkan sampai pejabat elit.

            Menurut keterangan warga, Bale beleq atau disebut juga sebagi ketoboq oleh orang sana didirikan oleh Tuan Guru Muttaqin atau yang biasa disebut Baloq Imut  ratusan tahun yang lalu atau pada  masa-masa awal  penyebaran agama Islam. Namun fakta ini memang sulit dibuktikan secara objektif mengingat tidak ada dokumen tertulis yang mencatat peristiwa ini.hghjjhjhjhjhjhjhjhjhjhj
            Secara harfiah, Bale Beleq ini dapat diartikan sebagai rumah (bale) besar (beleq). Namun ukuran bale belek sangat bertolak belakang dengan namanya karena Bale Beleq hanyalah sebuah rumah kecil sederhana yang beratapkan ilalang, berdinding bedek (anyaman bambu) dan  berlantaikan tanah liat biasa. Menurut masyarakat setempat bale belek ini dapat mengabulkan permintaan dan karena itulah ia disebut sebagai bale beleq. “dulu salah satu gubernur NTB pernah ke sini melakukan ritual dan tak lama kemudian ia pun naik menjadi Guberbur. Akan tetapi dia tidak menjalankan janjinya untuk datang lagi ke ketoboq ini dan yang terjadi apa, dia jtuh dari kekuasaannya bahkan tersandung berbagi macam kasus”, ungkap Rifai.mjkjkjkjkjkjkjkjkjkjkjkjkkjkjkj
            Bale beleq sangat ramai dikunjungi oleh mereka yang ingin mendaaapatkan berkah seprti ketika ada pemilihan kepala dusun, kepala desa, bupati atau bahkan gubernur. Warga percaya barang sipa yang bernazar di bale beleq maka keinginannya akan di kabulkan dengan syarat dia memenuhi nazarnya itu. Jika ia tidak memenuhi nazarnya maka yang akan menimpanya malah sebaliknya, dia akan mendapatkan kesulitan dalam hidupnya.nmnmnmnmnmnmnmnmn

Doa Bersama Meminta Hujan
Pada setiap  bulan 7, tanggal 7, 17, atau 27 kalender Sasak di bale beleq diselenggrakan sebuah upacara adat yang bertujuan untuk memhon hujan dan diberikan rezeki yang melimpah serta nikmat kesehatan. “ Upacara adat ini diadakan untuk memohon diturunkannya hujan, diberikan rejeki yang berlimpah dan nikmat kesehatan serta untuk menyantuni anak yatim “ ujar Kadir, ketua RT setempat. Upacara adat ini dipimpin  oleh lima orang pemangku adat yaitu Amaq Rohan, Papuq Rumenah, Amaq Mene, H. Rifaid dan Amaq Mender. Upcara ini berlangsung sangat meriah dan hikmat warga Wakan dari segala latar belakang tumpah ruah menghadiri upacara adat ini.nmmgbghg ggfgfbgfvvgfggyg
Tahapan-tahapan dalam upacara adat di bale beleq sangatlah rumit. Pertama-tama Pagar bambu itu dihiasi dengan daun kelapa yang dibentuk melengkung menjadi sebuah janur atau yang mereka sebut dengan rembong. Di sudut lain nampak beberapa amaq-amaq yang tengah menyembelih dua ekor kambing yang merupakan hasil swadaya masyarakat untuk upacara ini. setelah itu mereka mengolah dan memasak daging kambing itu. Uniknya, proses masak-memasak dilakukan para laki-laki tanpa campur tangan dari perempuan. “Yang masak itu laki-laki bukan perempuan, karena takut kalau ada perempuan yang sedang dalam masa haid. Kalau ada yang dalam masa haid, maka tidak diterima ritual yang dilakukan.” Jawab Inaq Mutri.
Setelah selesai shalat zuhur upacara kemudian dilanjutkan dengan  pembacaan naskah lontar. Di hadapan pembaca naskah lontar atau yang disebut pemaos telah disiapkan air kum-kuman, sepiring beras, benang setukel, sirih, dan pinang. Di tengah-tengah prosesi bepaosan, terdengar suara gendang beleq dari salah satu rumah warga. Berbunyinya gendang beleq itu sebagai petanda agar para pemain gendang beleq berkumpul di rumah gendang atau rumah tempat disimpannya gendang beleq.jnjhjkjkjjk
Setelah pemaos menyelesaikan bacaannya, para pemain gendang beleq kembali memukul gendang beleq untuk yang kedua yang bertujuan untuk memanggil warga agar segera berkumpul di bale beleq. Tidak lama kemudian warga desa Wakan secara beriringan datang , yaitu dari arah kampung Wakan Klotok dan kampung Mampe. Para warga yang umumnya ibu-ibu ini datang dengan membawa dulang di kepalanya. Dulang tersebut berisi nasi dengan lauk-pauk semampunya keluarga tersebut menyediakan. Dulang-dulang dari warga kampung Mampe di letakkan di luar area bale beleq, sementara itu dulang-dulang dari warga kampung Wakan di letakkan di dalam area bale beleq. “Dulang-dulang itu dibedakan tempat menaruhnya, supaya bisa dibedakan mana yang dari penduduk asli Wakan dan mana yang pendatang.” Jelas Mustiadi yang ikut dalam persiapan prosesi di bale beleq.mnhhjhjjmkjkjkj
Dulang yang sudah dijejerkan kemudian ditutup dengan sehelai kain dan di atasnya diletakkan mangkuk kosong yang nantinya akan diisi dengan daging kambing yang telah diolah. Bersamaan dengan datangnya dulang-dulang dari setiap kepala keluarga, datang juga enam dulang tinggi yang berasal dari tiga rumah pemangku adat, yaitu amaq Mine, amaq Rohan, dan amaq Rumenah. Dulang tinggi ini datang satu-persatu ke bale beleq. Dulang terakhir yang masuk ke bale beleq disertai dengan dupa dan kemenyan. Keenam dulang inilah yang kemudian dimasukkan ke bale beleq bersama dengan keenam pemangku adat. Para pemangku adat ini akan memulai berdoa terlebih dahulu di dalam bale beleq.
Setelah dirasa cukup waktu, pembawa acara akan menanyakan apakah pembagian daging sudah selesai atau belum. Bila sudah, maka semua warga yang datang akan duduk bersama untuk berzikir dan berdoa. Doa yang dipanjatkan terdiri atas doa keselamatan dan kesejahteraan warga kampung, doa untuk si pemilik rumah, doa untuk turunnya hujan yang membawa berkah bukan hujan yang membawa malapetaka atau musibah bagi warga desa.,mkjk mnm,mkjk kj k
Setelah selesai doa, warga kemudian makan berjamaah bersama para anak yatim. Selesai makan, warga tidak langsung pulang karena pemangkku adat akan membawa air kum-kuman untuk dipercikkan ke warga yang tengah duduk. Air ini diharapkan membawa berkah dari setiap percikkannya. Acara tidak usai sampai di sini saja, para pemangku kemudian membawa dupa ke pengempen atau sungai.nnnnnnnnnnnn
nnn n 
Tidak ada Perhatian Pemerintah
Bale beleq dengan segala prosesi adatnya adalah sebuah situs budaya yang seharusnya dilestarikan dan jika dikelola dengan baik sebenarnya bias menjadi sebuah asset wisata yaitu sebagi sebuah desa wisata layaknya Sade ataupun Bayan. Namun sangat disayangkan karena tidak ada sedikitpun perhatian yang diberikan oleh pemerintah kabupaten Lombok Timur maupun Pemerintah Provinsi NTB. Sekretaris Desa Wakan mengatakan, “ Hingga saat ini, tidak ada bantuan atau perhatian dari pemerintah untuk pemeliharaan dan plestarian bale beleq ini  “. Bale beleq adalah sebuah situs budaya yang terlupakan. Jika tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah maka kita hanya tinggal menunggu waktu bale beleq atau ketoboq ini akan apuq dimakan sejarah. [Yanti, Nuri, Anang, Mia]mmmmmmmmmmmmm